Thursday, 24 September 2009

Microlet Dili dan Monorel Jepang.


Inilah tipe dua model sistem transportasi di Timor Leste dan Jepang. Pasti banyak orang yang akan bertanya kenapa harus bandingkan Negara yang baru berdiri 10 tahun dengan Negara yang sudah berumur ratusan tahun?. Sekali lagi tidak ada unsur kesenjagaan membandingkan negeriku dengan negeri Jepang. Maksud dari tulisanku kali ini adalah bukan untuk membandingkan sistem transportasi Jepang dengan sistem transportasi yang ada di Timor Leste, suatu hal yang sangat berbeda sekali. Kebanyakan masyarakat Jepang lebih memilih monorel, dibanding menggunakan mobil pribadi atau bis. Karena bepergian dengan monorel tidak akan ada kemacetan lalulintas, dan halte-halte perhentian monorel ini sangat strategis baik itu dekat lokasi pusat perbelanjaan, kantor-kantor maupun apartement. Pemerintahan Jepang tahu betul bagaimana cara memberikan fasilitas terbaik buat masyarakatnya. Pada suatu kesempatan aku bertanya pada teman orang jepang, siapa nama orang terkaya di Jepang?. Teman itu menjawab: kalau di Jepang hampir tidak bisa menilai mana yang kaya dan mana yang miskin memang ada juga istilah homeless tapi jumlahnya sangat kecil. Masyarakat Jepang baik itu yang miskin ataupun kaya akan lebih memilih monorel, sub way atau sinkanzen karena tepat waktu dan tidak macet. Maka jangan heran bila melihat kondisi wilayah Jepang hampir mirip dengan Timor Leste tapi sistem infrastruktur seperti Jembatan, Rail way, sub way, toll dan lain-lain mungkin yang tebaik di dunia, Selain nyaman juga bersih dan teratur. Di Timor leste mungkin kita akan melihat hal yang berbeda. Kendaraan umum seperti mikrolet akan sangat susah bagi masyarakat yang berekonomi lemah. Tidak percaya! Bepergian dengan menggunakan mikrolet terutama di Dili sebagai ibu kota Negara, akan sangat susah, kita harus menunggu dan menunggu kadang sampai berjam-jam baru dapat tempat duduk. Bagi kaum laki-laki kadang lebih nekad, mereka bisa mengantungkan diri dekat pintu masuk mikrolet tersebut. Memang lebih beresiko tapi apa boleh buat, naik taxi harus bayar $1 mendingkan naik mikrolet Cuma bayar 10 cent. Masalah ini tidak hanya dihadapi oleh masyarakat umum tapi juga anak sekolah. Kadang mereka harus terlambat ke sekolah karena tidak tersedia sarana transportasi yang memadai buat mereka. Posisi masyarakat cukup dilematis, disatu sisi ingin menikmati fasilitas transportasi yang lebih baik tapi disisi yang lain mereka tidak mampu untuk membayarnya. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah dalam hal ini kementerian yang berkompeten harus mempunyai studi kelayakan terhadap sistem transportasi terutama di Dili agar tidak terjadi kemacetan lalulintas, mudah terjangkau, nyaman, bersih dan murah.

No comments:

WELCOME TO MAROBO HOT SPRING..

Marobo hot spring atau air panas Marobo cukup terkenal di kalangan masyarakat Timor Leste. mulai dari kalangan anak-anak, orang dewasa maup...