Namanya Suster Franchine, CB atau biasa anak-anak legio RPD memanggilnya "MAMI". Aku mengenal beliau sekitar tahun 2007 ketika aktif di Legio Marie RPD Boromeus dimana beliau sebagai pembimbing rohaninya. Bagiku Suster "Mami" Franchine adalah orang yang sangat istimewa; punya kepedulian kepada sesama dan seorang pendoa yang kuat. Tak terhitung begitu banyak perhatian, bantuan dan nasehat yang aku dapatkan dari beliau. Namun kini semuanya telah sirna, tanggal 3 juni sekitar pukul 11.13 aku dikejutkan oleh SMS dari anak-anak Legio RPD yang isi " Bang Mami sudah meninggal jalm 9.55 di RS. ST. Boromeus". Awalnya aku kurang percaya akan SMS tersebut karena SMS yang sama sempat aku terima sekitar seminggu sebelumnya, namun kali ini aku percaya bahwa suster " Mami" franchine sudah meninggal. Selamat Jalan "mami" Franchine semoga beristirahat kekal bersama-Nya. Kata-katamu " Prinsip, disiplin dan Tanggungjawab akan selalu kukenang seumur hidupku.
Beberapa hari yang lalu penulis beserta keluarga yang lain menghadiri acara kawin adat yang di selenggarakan oleh keluarga kedua mempelai. Kebetulan yang pengantin laki adalah saudara sepupu jadi aku berusaha untuk hadir di acara ini.. Kawin adat sebetul adalah sebuah proses dimana kedua mempelai berjanji untuk mengikat tali pernikahan sah secara adat dan telah direstui oleh kedua belah pihak. Nah, dalam tulisan kali ini penulis tidak akan membahas sejarah munculnya kawin adat di Timor Leste tapi yang penulis tekankan disini adalah tata cara pernikahan adat yang diakui secara luas di Timor Leste. Proses pernikahan adat meliputi beberapa tahap: 1. Tahap persiapan Pada tahap ini, keluarga mempelai laki mengundang sanak saudara untuk duduk bersama dan meyiapkan strategi apa yang harus diomongkan ketika berhadapan dengan pihak mempelai wanita. Strategi yang penulis maksud disini adalah berapa biaya yang harus dipersiapkan oleh mempelai laki sebelum dibayarkan ke pihak mempelai...
Comments